05 April 2016

Kelas Maret Dua Tahun!

Setelah sering ngobrol di group chat, sebut saja di kelompok ngobrol Garis, akhirnya BC Maret 2014 memutuskan untuk mengadakan acara ulang tahun bersama-sama. Sesuatu yang awalnya cuma tercetus dari obrolan ngalor-ngidul kami seperti biasa.
Setelah rapat di group chat selama berbulan-bulan (kira-kira 4-5bulan lah) akhirnya terlaksana juga "Birth Club March2014 2nd Birthday: March Babies is Turning Choo Choo".
Yang sama sekali ngga terduga, kami yang awalnya berniat patungan saja untuk memberikan keceriaan pada anak-anak kami, ternyata mendapat banyak sekali kemudahan sponsor. Apa aja sponsornya? Nanti gue posting kemudian ya...
Acara diadakan di Gedung Pusat Pertamina, Jakarta Pusat, yang dengan tangan terbuka menyambut kami. Bright Gas, salah satu produk unggulan mereka, bersedia menjadi sponsor utama kami. Sebelum acara mulai kami menyempatkan diri untuk foto-foto di photobooth sementara anak-anak juga senang sekali main di Play Area yang keduanya disediakan oleh Up And Up Project yang juga mendekorasi ruangan acara kami. Ada juga yang memilih untuk minta dibacakan buku sama mama-papanya di Reading Corner yang disediakan oleh Babyloania dan Pustakalana. Sementara itu beberapa anak mulai ngga sabar pengen colek-colek kue lucu dari MiniLoveBites dan The Urban Mama.
Acara di mulai dengan pembukaan oleh tante MC cantik, lalu doa bersama. Setelah itu kami potong kue, yang diwakili oleh kakak tertua, Aksara (27Feb), dan adik bungsu, Keana (27Mar). Selesai potong kue, kami mendapat kegiatan menempel dari "Pretty Party Pack"nya Gudily. Anak-anak senang senang sekali karena tapenya mudah di sobek dan warnanya lucu-lucu sekali. Selesai menempel tibalah saat yang ditunggu anak-anak, tukar kado. Anak-anak berebut untuk mengambil nomor kado mereka. Puas tukar kado, kami pun bersabar untuk mendapatkan goodie bag sambil difoto lagi. Wah ulang tahun yang luar biasa, kami membawa pulang 3 goodie bag sekaligus! Selain goodie bag yang kami persiapkan sendiri, ada pot luck dari mama Fitri, dan juga dari Pertamina Bright Gas. Dengan pembagian goodie bag, maka rangkaian acara pun selesai.
Selesai acara, kami ngga bisa langsung pulang. Kenapa? Masih banyak makanan menanti karena banyak mama yang dengan baik hati menyediakan potluck. Juga ada minuman segar dari TaeTea, Mbok Jamu, dan frozen yogurt dari YoWiz. Mama-mama duduk manis makan, anak-anak masih belum puas main. Mingle time! Ada mama-mama yang belum pernah ketemu sama sekali, tapi terasa seperti udah lama kenal. Bahkan beberapa menyediakan waktu untuk datang dari Jogja, Bandung, dan Balikpapan. Anak-anak pun berbaur dengan baik, juga dengan kakak-kakak yang ikut datang. Ada yang sama-sama baca buku (walaupun cuma liat gambar), ada yang udah tabrakan sampai benjol pun masih bisa main sama-sama. Hahaha...
Setelah kenyang makan kami saling berpamitan. Sedih rasanya harus berpisah. Maka kami berdoa semoga kami bisa cepat ketemu lagi, dan beberapa malah sudah mulai merencanakan untuk bikin next birthday. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu terselenggaranya acara ini, semoga Tuhan membalas segala kebaikan anda.

Happy Birthday March Babies, semoga kalian tumbuh jadi anak-anak membanggakan! See you all sooner that soon!

TUM Birth Club Maret 2014

Waktu punya anak pertama, gue terbilang masih hijau, labil, dan terlalu sibuk untuk gabung forum-forum emak-emak. Pas punya anak kedua, lalu buka-buka theurbanmama.com gue tertarik sama yang namanya Birth Club. Isinya ibu-ibu yang punya anak-anak yang lahir di bulan dan tahun yang sama. Maka dengan penuh tekad dan keberanian, gue mengambil resiko untuk minta gabung group chatnya Birth Club Maret 2014 (lebay). Eh ternyata oh ternyata sama sekali ngga kaku seperti yang gue bayangkan.
Buibu disini saling dukung, saling membantu, dan terbuka untuk masukan dalam membesarkan anak-anak. Bahkan akhirnya kita bener-bener jadi kayak sahabat yang udah lama sekali kenal, walaupun banyak yang belum pernah ketemu sama sekali.
Awalnya gue gabung untuk dapet teman senasib yang punya anak seumuran sama Lil R. Ternyata ngga cuma berbagi tips and trick parenting, kita jadi sering berbagi tips make up, info diskon, sampai ngobrol ngalor-ngidul ngga jelas tengah malam. Bener-bener jadi sahabat.
Kadang sahabat bisa kita temukan ditempat yang terduga. Ngga kalah sama cinta. Hihihi... Mudah-mudahan persahabatan yang terjalin bisa tetap erat sampai anak-anak besar nanti.

Kelas Maret: "We build sisterhood through motherhood"

02 April 2016

Duluuuu...

Dulu... duluuuu... banget. Ngga pake banget sih, dulu aja. Maksudnya lumayan lama dikit deh. Jadi dulu gue jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang pemuda dengan motor yang lakik banget, helm fullface yang digantung di tangan dengan jaket coklatnya. Sekarang tiap hari gue ketemu om-om bermotor bebek yang pake helm cetok. Ngga deng, helm setengah.

Dulu... duluuuu... banget. Ngga pake banget sih, dulu aja. Maksudnya lumayan lama dikit deh. Jadi dulu gue jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang mahasiswa yang ke kampus cuman bawa binder notes sama satu bolpen yang diselipin. Sekarang tiap hari gue ketemu bapak-bapak bawa tas gemblokan yang udah kayak kantong doraemon.

Dulu... duluuuu... banget. Ngga pake banget sih, dulu aja. Maksudnya lumayan lama dikit deh. Jadi dulu gue jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang anak muda yang punya mimpi yang setinggi langit dan cuek sama sekitarnya. Sekarang tiap hari gue ketemu bapak-bapak yang galak banget kalo anaknya kenapa-kenapa dan mau ngapain aja musti mikirin anak-istrinya dulu.

Dulu... duluuuu... banget. Udah ah.... panjang-panjangin aja. Gue lagi liat Mister Daddy main basket. Dan gue sadar bahwa itu orang yang sama. Pemuda yang membuat gue jatuh cinta, dan tetap jadi bapak-bapak yang bikin gue jatuh cinta. Kecintaannya terhadap basket tetap sama. Kecintaan yang membuat gue bertumbuh dalam cinta.

Dan setelah lebih dari sebelas tahun bersama ternyata cinta gue sama Mister Daddy itu bukannya "jatuh", tapi bertumbuh. Semakin besar dan semakin dewasa. Mungkin kami bukan pasangan yang terlihat mesra di media sosial, bukan pasangan yang hobi pakai baju couple, juga bukan pasangan yang romantis dalam menyatakan cinta. Tapi yang namanya cinta dalam rumah tangga itu tetap harus diperjuangkan hari demi hari. Demikian juga dengan kami, yang akan terus mempertahankan cinta ini sampai maut memisahkan.

Selamat hari ulang tahun (yang sudah lewat), Mister Daddy... You and I are enough to touch the sky...

13 February 2016

Karena Suap-suapan

Ahhh baru aja nonton video pernikahan seorang selebriti di youtube. Megah, ramai, cantik, penuh bunga-bunga, rame sama artis. Beberapa hari yang lalu juga sempat liat foto-foto nikahan gue. Ngga begitu megah, ngga begitu ramai, biasa aja, penuh makhluk kelaparan (isinya anak basket, sama anak dance yang doyan ngemil). Hahaha... tapi tetap indah.
Ada satu hal yang tiba-tiba menarik perhatian gue: acara suap-suapan. Jarang sekali pernikahan di Indonesia ini absen dari acara suap-suapan, baik pernikahan tradisional maupun pernikahan internasional (seperti gue). Kenapa menarik? Gue jadi ingat si MC yang gemulai itu berkata, "suapan ini menjadi tanda kasih dan saling melayani". I repeat, "TANDA KASIH dan SALING MELAYANI". Pertanyaannya, apakah dalam pernikahan ini kami sudah saling melayani?
Gue ngga akan masuk ke pembahasan relijius soal ini, tapi yang umum-umum aja. Selama ini kan yang sering terdengar itu "istri melayani suami", baik kebutuhan rohani, jasmani, maupun seksual. Bagaimana dengan suami? Menurut gue pelayanan suami kepada gue itu tokcer banget. Maksudnya begini, dia melayani gue secara finansial (alias menafkahi gue dan anak-anak), lalu secara jasmani juga dengan menyediakan tangan untuk membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak-anak juga, lalu juga di tempat ti........... okeh yang itu ga perlu dibahas. Kesimpulannya, selain gue yang melayani suami (obviously) ternyata suami juga melayani gue. Berarti fix, suap-suapan gue menjadi simbol yang dari apa yang benar-benar kami lakukan dalam rumah tangga.
Bagaimana suapan lainnya? Yup, selain saling menyuapi, di resepsi pernikahan, kami juga menyuapi orang tua kami. Sama, simbol dari pelayanan. Lalu apa kami sudah melayani orang tua kami sebaik-baiknya? Sebenarnya tanpa perlu simbol apapun, melayani orang tua adalah kewajiban. Memang ngga ada orang tua yang sempurna, begitu juga dengan orang tua kita. Gue dan suami juga kadang suka bercanda tentang sikap dan sifat orang tua kami yang lucu karena sudah ngga sesuai jaman. Tapi apa yang telah beliau-beliau lakukan buat kami sungguh tidak ternilai. Walaupun terkadang ada hal-hal yang kurang berkenan di hati kami tentang orang tua kami alias ngga sreg, kami tetap berusaha melayani mereka sesuai kemampuan kami. Sekeras apapun kami berusaha tetap tidak akan bisa membalas apa yang telah mereka lakukan untuk kami, anak-anaknya.
Bukankah hidup dalam pernikahan itu memang kodratnya melayani? Setidaknya itu yang masih dipegang oleh masyarakat kita. Toh kalau kita saling melayani maka keegoisan kita makin lama makin terkikis dan kita bisa hidup lebih damai sejahtera dengan orang-orang yang kita sayangi bukan? Kan? Kan?

05 February 2016

A Great Mom

BRAKK!
Pagi-pagi pintu dibanting kencang lalu terdengar langkah kaki kecil menghampiriku yang sedang mencuci piring di dapur.
Tuk tuk tuk tuk... "Mmpain Mami?"
Berarti yang kecil. Aman. Yang besar tidurnya sangat pulas, nggak akan bangun walau pintu dibanting, karena adiknya belum bisa tutup pintu pelan-pelan. Tapi tetap aja itu pintu rumah tua, rasanya tetap aja kesel. Ditambah cucian piring banyak sekali, capek, lalu di samping udah ada cucian yang menggunung, belum ke pasar, masak, belum ngepel rumah, terus ini anak kok udah bangun aja. Astaga... Mau meledaaaakk!!!

----------

Begitulah sehari-hari di rumah gue. Jadi ibu rumah tangga. Kerjaan yang ngga ada liburnya, ga ada tunjangan, ga ada bonus, ga ada jenjang karir, plus ga bisa resign. Memang kalo di dongeng, film, cerita, apalagi iklan, jadi ibu itu indah sekali. Tapi jadi ibu di iklan sama jadi ibu beneran itu jauh berbeda.
Di iklan, main air sama bayi itu bahagia sekali soalnya ngga ada bagian ibunya ngambil sabun dua detik, anaknya kepeleset terus benjol, dan sebulan penuh ibunya menanggung label "ibu lalai yang membiarkan anaknya jatoh di kamar mandi" tiap ada orang nanya itu benjolnya kenapa. Di iklan, pakai popok itu menyenangkan, karena ga ada adegan anaknya kabur terus pipis di karpet. Di iklan, punya anak dua ibunya dicium kanan-kiri, bukan tonjok-tonjokan berebut mobil hijau padahal di sekitarnya ada dua puluh lebih mobil merah, biru, jingga, hitam, dan warna-warni lainnya.
What's my point? Jadi ibu itu ngga enak? Bukan. Bukan ngga enak, tapi sulit. Sulit sekali. Ditambah masyarakat yang menuntut kesempurnaan seorang ibu. Foto-foto ibu yang kreatif, ibu yang anaknya homeschool, ibu yang rajin memasak makanan bergizi dan rumahnya bersih kinclong, ibu wanita karier yang masih ASI eksklusif, ibu sosialita cantik yang aktif berorganisasi sosial, dan ibu-ibu hebat lainnya bertebaran di media sosial. Rasanya kok mereka hebat sekali. Lah gue? Emak2 dasteran yang bau keringet abis nyuci-masak lalu maksa anak tidur siang cuman biar bisa sejam main game atau baca buku. Jam istirahat itu namanya.
Saya mah cuma ibu biasa. Beneran, ibu-ibu biasa aja, yang anaknya makan junk food buat dapetin mainannya, yang suka ngomel kalo banyak kerjaan lalu anak-anak kompakan bikin rumah kayak kapal pecah, yang membiarkan anak main suka-suka mereka berdua selama itu artinya mommy bisa masak atau nyetrika dengan bebas merdeka. Kadang media sosial bikin gue minder, sepertinya kok gue tertinggal sekali dengan ibu-ibu hebat tersebut.
Lalu suatu saat gue memutuskan untuk iseng cek apa aja yang udah gue posting di media sosial. Ternyata? Wah sama... anak gue tersenyum gembira (ngga terlihat dipaksa foto sama mommynya), jalan-jalan liburan keluarga (tanpa drama anak BABnya bleber di tengah jalan), pekerjaan tangan anak yang bikin bangga (yang sebenarnya nyiapinnya pake begadang dulu), semuanya terlihat "baik-baik saja". Pencitraan? Mungkin. Tapi gue jadi sadar bahwa ngga semua yang gue liat di media sosial terjadi persis seperti yang gue bayangkan, dan disamping segala kesulitan yang gue alami sebagai ibu ternyata lebih banyak sukacita yang gue alami bersama dua jagoan neon gue (meletin lidah berwarna). Gue belajar bahwa media sosial itu hanya sekilas dari yang dialami ibu-ibu hebat tersebut. And maybe, juuuusst maybe, somewhere out there, someone is watching me and mentioning me as another "ibu hebat" (pede geeelaa gueh). Sebagai ibu hebat, tentu dengan sadar diri gue harus meng-upgrade diri gue. Cita-citanya adalah suatu saat nanti, postingan gue yang selalu bahagia itu bukan cuma pencitraan tapi benar-benar hidup gue yang sebaik-baiknya menjadi inspirasi untuk ibu-ibu lainnya.
Pada akhirnya, setiap ibu punya kesulitannya sendiri, dan setiap ibu mau yang terbaik buat anaknya. We learn from another great mothers to become another great mothers. Mari, berjuanglah ibu-ibu... percayalah, kita semua adalah ibu-ibu hebat.

10 January 2016

Si "Book"

Hepi nu yiaa eperibodeehhh...
This year is about being a new me. I'm recently on a new stage of my life. Yah yah yah... baru-baru ini kepala saya jadi tiga. Begitulah. The kepo-moody-temperamental-childish-tomboy mom was having a moment of reflection.
Banyak ketemu orang, banyak ngobrol selama liburan, berarti banyak masukan, cerita, dan refleksi diri. Seberapa sering sih kita catat apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan ke dalam buku? Apalagi sekarang udah ada smartphone, tablet, dan berbagai gadget. Makin jarang aja ketemu kertas.
Padahal saya sendiri merasa beda lho nulis di buku dan nulis digital. Yang di buku bisa diurek-urek, kalau bete kertasnya bisa dilecekin, kalau nangis tulisannya luntur (bisa dihindari kalau pakai Pilot atau Standart, you know what I mean...), kalau senang bisa digambar-gambar (dengan skill seadanya), kalau penuh cinta bisa pakai cap bibir, so many emotions yang bisa dituangkan ke dalam selembar kertas atau sebuah buku...
I miss having one book. A notebook. My own notebook. One that drives me crazy when someone randomly read it and makes me go crazy if someone write in it. Especially when it is someone in particular. Not just someone, but "someone" someone. That special someone.
I used to have a notebook that holds everything i that i have in mind. One book that represents me. When people see that book, they see me. A book that I pour my heart and soul into. A book that is a place where I write about my thoughts, my feelings, my worries, my everything.
That kind of book is what I need right now. I used to write everything and anything in my life randomly. Everytime i finished my writings, it feels like i'm released from a great burden. Nowadays, with being mom of two and everyday life, I rarely have a chance to write. When I'm not with them, chores are waiting to be done. Lately I realize I become easily irritated and missunderstood. Mungkin seiring berjalannya usia, saya harus kembali ke toko buku, mencari dan kembali mencari teman kertas buat saya...

07 November 2015

This Village for My Children

Dulu waktu gue baru punya anak rasanya sombong banget. Cari-cari ilmu di buku, di internet, belajar apa kata para ahli dan para pakar, pokoknya cari ilmu sebanyak-banyaknya dari luar. Salah? Ngga juga sih. Tapi, ya gitu, gue jadi sombong. Ga mau dengar pendapat orang deket, ga mau anak gue dipegang orang lain, apa lagi kalo orang itu udah punya anak terus karakter anaknya ngga sesuai yang gue mau. Hih, jauh-jauh deh. *buang napas dari idung* *upilnya mental*
Sekarang anak gue dua. Gue baru sadar ternyata pepatah Afrika yang bilang "It takes a village to raise a child" itu bener. Karena gue juga manusia, bisa capek, bisa emosi, bisa khilaf, kadang-kadang juga bisa gila. Dan saat itu siapa yang "raise" anak-anak gue? My "village", of course. Keluarga, tetangga, teman, dan orang-orang di sekitar kami.
Waktu gue sadar akan hal itu, rasanya kayak ditabok (pake sendal jepit sama Agung Hercules). Baru sadar gue ga bisa menciptakan dunia ideal buat anak-anak gue. Mereka akan tumbuh sesuai dengan situasi yang ada.
Yaaaahhh batal dong gue membentuk mereka sesuai yang gue mau? Ngga juga sih. Tetap aja sebagai orang tua gue harus jadi pagar dan filter terdepan buat mereka. I'm sending them to the right village. Gue ga bisa melarang mereka informasi masuk ke mereka, tapi gue bisa mengarahkan mereka untuk mencari sumber informasi yang valid. Gue ga bisa melarang mereka main, tapi gue bisa mencari permainan yang baik buat mereka. Yang jelas gue berusaha memastikan bahwa dasar yang mereka bangun itu kuat. Lalu biarkan mereka membangun diri mereka sendiri, mungkin jadi rumah, rumah panggung, gedung pertunjukkan, gelanggang olahraga, condotel, apa pun itu. Saatnya nanti, mereka akan jadi "village" untuk anak-anak lainnya.

10 July 2015

Balada Undang Mengundang

Belakangan ini lagi musim kawin. Bukan, bukan kucing depan rumah. Tapi banyak yang menikah dan akan segera menikah di sekitar gue. Tetangga, teman sekolah, kerabat, temen fesbuk... hehehe...
Beberapa kali, di kolom komentar foto resepsi pernikahan di sosial media, gue menemukan kalimat "kok gue ngga diundang?". Begitu juga terdapat beberapa di foto resepsi pernikahan gue. Sebagai orang Indonesia yang menganggap resepsi pernikahan adalah "pengumuman" bahwa kita sudah menikah, tentu inginnya semua orang tahu dan ikut berbahagia. Akhirnya gue berusaha mengingat lagi, kenapa ya ngga gue undang semua yang gue kenal ke resepsi pernikahan gue. Gue menemukan beberapa jawaban.

1. Pentingnya orang tersebut.
Pernikahan itu sesuatu yang penting, diharapkan terjadi sekali seumur hidup, sebuah langkah besar dalam hidup. Tentu gue ingin berbagi dengan orang-orang yang penting buat gue dan pasangan. Orang-orang yang membentuk kita akhirnya menjadi kita yang saling menemukan dan mengiring kita sampai ke pernikahan. Kalau sekedar kenal doang, ya udahlah ya, mungkin ga perlulah diundang.

2. Budget.
Namanya kita mau berbagi kebahagiaan, pasti ada dana yang harus dikeluarkan. Tentunya ngga semua orang bisa kita kasih makan. Kalau kita habiskan semua buat kasih orang makan, besoknya kita mau makan apa? Toh resepsi hanya satu hari (atau seminggu, untuk yang ada dananya), tapi hidup harus terus berlanjut dan itu butuh dana juga. Jadi ngga perlu kan semua orang diundang ke resepsi.

3. Suasana.
Beberapa waktu yang lalu beredar video seseorang yang menangis di resepsi pernikahan mantan kekasihnya. Duh, karena satu orang, suasana bahagia berubah jadi air mata. Atau ada beberapa orang gue kenal ternyata bermusuhan dengan kenalan gue yang lain. Padahal tujuan kita mengadakan resepsi tentunya untuk berbagi kebahagiaan. Dengan beberapa alasan ini juga waktu itu gue memutuskan untuk tidak mengundang beberapa orang.

Pada akhirnya keputusan untuk mengundang para kerabat (atau tidak) kembali kepada pasangan yang akan menikah. Dan kalau tidak diundang sebaiknya tidak membebani mereka dengan perasaan bersalah karena tidak mengundang kita. Doakan saja supaya pernikahannya selalu bahagia. Bukan begitu?

18 November 2014

Ke depan... gih, sana!

People change. They do. Pernah ngga sih lo berpikir bahwa "Aku masih seperti yang dulu" tuh ngga masuk akal? Ngga ada ceritanya bahwa kita adalah orang yang sama selalu. Kita berubah. Setiap saat kita berubah. Bertambah tua, setidaknya.
Dulu saudara gue punya sahabat. Lengket banget. Udah kayak merpati giring, kemana-mana berdua. Kegiatan apapun selalu sama-sama. Sampai akhirnya sesuatu terjadi dan mereka pun bercerai. "Abis dia berubah sih. Ngga kayak dulu", katanya.
Setiap orang pada suatu titik dalam hidupnya harus menyadari bahwa dia bukan orang yang sama lagi. Mungkin bisa saat terjadi suatu peristiwa atau saat dia lagi dalam suasana sehari-hari yang menjenuhkan.
Gue, misalnya, sedang melihat anak-anak gue saat gue sadar bahwa realita gue udah berubah. Gue bukan lagi "kak Patsy", sekarang kemana-mana gue pasti dipanggil "Bu" atau kalo sama SPG sok kenal dipanggilnya "Bunda" (sebenernya gue ngga suka banget dipanggil Bunda, tapi ini bahan cerita di hari lain). Gue ngga mengajar anak-anak remaja dengan berbagai persoalan dan latar belakang lagi, tapi mengajar 2 bocah kecil yang sama setiap harinya. Gue berubah dari tante single yang baik hati, favorit semua anak, jadi "mommynya J&R yang galak". Memang. Jadi galak. Kemudian gue sadar kalo gue bukanlah orang yang sama lagi.
Makanya gue jadi sebel kalo ada yang becandaan pake " Dulunya...". Karena gue percaya hidup itu selalu memandang ke depan. Ya, memang ada kalanya kita sesekali menengok ke belakang. Untuk belajar dari kesalahan, untuk bersyukur atas situasi yang membentuk kita, untuk mencari pijakan saat kita hendak melangkah ke atas lagi. Tapi ngga berarti kita terkungkung dengan kejayaan masa lalu, bahkan terpenjara karena muramnya hal-hal yang telah terjadi dulu.
Gue belajar bahwa masa lalu itu cukup dilirik, sesekali ditengok. Tapi tidak dihampiri. Hanya sebagai referensi untuk terus maju ke depan. Karenanya gue mau terus maju dan melangkah. Gue mau jadi "orang yang lebih baik lagi" seperti kalimat favorit orang-orang. Gue harus lebih dari sekarang. Karena anak-anak membutuhkan gue yang sekarang, bukan gue yang dulu.
I wanna keep moving forward.

05 August 2014

Dua bunda

Ibu.
Begitulah pekerjaan mereka. Mengasuh, mendidik, mengajar, memeluk, mencium, memberi semangat, mengkritisi, membenarkan, mengoreksi, hanya sebagian kecil dari pekerjaan mereka.

Dua.
Lahir di tanggal yang sama. Tepat setahun bedanya.
Sama kerasnya, beda dunianya.
Sama perhatiannya, beda targetnya.
Sama kerja kerasnya, beda kegemarannya.
Sama keras musiknya, beda alirannya.
Sama hati memberinya, beda pemberiannya.
Sama keras hidupnya, beda prioritasnya.
Sama penuh cintanya, beda panggilannya.

Mommy. Mama.
Keduanya Bunda ku.

30 June 2014

Together Forever

"... setia mendampingi dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin maupun kaya, duka maupun suka, sampai maut memisahkan..."

Awwww... Bersama selamanya... Indah ya? Setelah pacaran lama, lalu menikah, lalu bersama selamanya. Seperti cerita dalam film-film itu lho... Sayangnya kenyataan tidak berkata demikian. Gue pacaran 6 tahun lebih, lalu menikah sudah 3 tahun. "Bersama selamanya" adalah salah satu yang gue harapkan setelah (akhirnya) gue menikah setelah bosen ditanyain melulu sama orang-orang. Setelah menikah gue berharap makin mesra, makin kasmaran, makin lengket sama suami.
Ternyata ngga lho. Setelah menikah, lalu langsung hamil, lanjut punya anak, lalu anak kedua, seakan-akan waktu ngga memberi celah buat kami mesra-mesraan. Suami kerja makin giat karena makin banyak mulut yang harus dikasih makan. Gue, yang sedari awal ngotot mau nyusuin sampe dua tahun dan ngga mau punya babysitter, sibuk sama anak-anak. Dari bangun, nyusuin, suapin, mandiin, cebokin, semuanya gue yang urus. Mungkin hampir setiap jengkal badan anak gue, gue kenal. Tapi suami? Hmmm....
Dulu, jaman pacaran, setiap hari gue sama suami smsan (belum punya hp canggih yang bisa BBM, Line, Whats App, dll). Kalo bisa tiap jam gue sms, gue smsin deh. Sekarang, mana sempat? Baru si kecil selesai nyusu, bungnya numpahin air, bungnya selesai makan, yang kecil minta digendong. Hectic. Dulu kalo punya kesempatan pasti gue sempetin ketemu laki gue buat mesra-mesraan, semua waktu gue buat dia. Sekarang mana bisa? Setiap ada waktu kosong bawaannya kalo ngga mau mandi, mau istirahat, mau pegang hp, mau tidur.
Setelah semuanya ini baru gue tau, kenapa banyak orang yang cerai. Banyak yang bilang "tidak ada kecocokan lagi'. Karena setelah sibuk sendiri, memang seakan-akan kita ngga kenal pasangan lagi. Gue ngga tau dia ngajar apa aja hari ini, dia ngga tau bung J - baby R ngapain aja hari ini. Gue ngga tau dia sama temen-temennya ngomongin capres atau piala dunia atau siapa yang mereka dukung, dia ngga tau gue berapa kali jerit sama bung J supaya ngga gangguin baby R pas lagi tidur. Belum lagi ngga tau kalo masing-masing pergi, di jalan ada apa. Bisa sih cerita, tapi seberapa lengkap cerita kita? Bisa ngga ngisi cerita kita sampai ke apa yang kita rasain?
Lalu bagaimana? Ya begitu deh... Ya tentu disinilah yang namanya usaha. Ternyata usaha ngga hanya waktu lo berusaha deketin dia di kampus, atau usaha supaya dia cepet nembak, usaha biar ngga putus, usaha biar dia cepet ngelamar (hahaha... sounds ngenes?), tapi juga usaha mempertahankan cinta yang udah ada. Mempertahankan kasih yang kita kumandangkan sejak jaman pedekate.
Kadang kita bisa usaha sendiri, kadang kita butuh bantuan. Bantuan gue bernama "grand-grandnya bungJ-babyR" Hehehe... Grandpa, Granny, dan Granddad, yang setia nemenin atau gendong bungJ-babyR sementara mommy-daddynya sekedar pegangan tangan atau makan bareng. We never had (or desperately need) fancy dinner or a night out (yet?). Sekedar pengorbanan kecil-kecil setiap hari ada aja artinya. Mungkin bikinin mi goreng buat suami walau badan rentek abis nyusuin, atau pijitin pinggang gue yang mau rontok walau dia baru aja selesai ngelatih basket dengan materi passing-shooting.
It takes two to fall in love. Perjalanan masih panjang. Selama kita masih sama-sama berusaha untuk tetap saling mencintai, "sampai maut memisahkan" bukan tantangan besar...
Happy 3rd anniversary dear...

15 May 2014

Fight to Survive

I always consider myself a late bloomer. Gue dewasa sangat terlambat, menurut gue. Walaupun gue udah jalan kemana-mana, gue baru merasa menemukan diri gue setelah menikah, punya anak. Banyak hal yang gue rasa gue lewatkan dan terlanjur ngga bisa kembali.
Setelah menikah gue melihat kembali kehidupan gue, dan gue menyadari banyak hal yang gue pikir udah gue jalani maksimal ternyata belum. Hal-hal yang gue pikir sudah keterlaluan, ternyata bahkan belum lewat batas. Dan yang lebih bikin gue merenung, ada hal-hal yang gue pikir udah gue selesaikan ternyata belum selesai.
Gue terlalu mudah percaya sama orang. Dan kalau gue udah percaya sama orang, gue akan mengabaikan orang lain. Orang pertama yang gue anggap benar akan jadi pegangan gue dan orang lain akan selalu salah dimata gue. Untuk itu, ada harga yang harus gue bayar. Gue kehilangan banyak kesempatan. Gue kehilangan banyak peluang. Hanya karena pendapat orang tertentu. Yang seharusnya gue bisa melebarkan sayap, pandangan gue jadi sempit. Gue ngga mau itu terjadi sama orang-orang muda yang gue sayangi. Gue berharap ngga akan jadi halangan buat mereka maju, gue mau jadi batu loncatan mereka. Supaya mereka ngga jadi seperti gue yang kehilangan peluang-peluang yang bisa merubah hidup mereka.
Lagipula gue juga terlalu malas. Gue terbiasa untuk ngga menghargai perubahan. Gue orang yang memegangn teguh sebuah tradisi. Bukannya itu hal yang jelek, tapi itu mengekang gue untuk berinovasi. GUe terlalu terpaku sama masa lalu dan sulit sekali menatap ke depan. Kejayaan masa lalu adalah masa lalu, harusnya gue menatap ke depan. Akhirnya gue terpenjara di masa lalu. Dan seperti batu ditengah-tengah sungai, gue ngga kemana-mana. Disitu aja. Terlalu sering gue bilang "Dulunya ..." dan itu terlalu banyak menghambat gue. Gue ngga ngga mau orang-orang muda yang gue sayangi terpaku sama masa lalu. Mereka harus menatap ke depan dan melangkah.
Dan yang terakhir, gue terlalu manja. Gue terbiasa mau enaknya dan sulit bertarung. Hidup gue bisa dibilang mudah. Dan kalau ngga dibilang mudah, maka gue akan memudahkannya untuk diri gue sendiri, gue lari dari masalah. Hal-hal yang harusnya gue selesaikan, gue tinggalkan. Hal-hal yang seharusnya gue perjuangkan, gue abaikan. Akhirnya gue ngga jadi apa-apa. Gue terlalu lemah untuk bertarung untuk masa depan gue, dan memilih menyerahkannya pada keadaan.
Setelah punya anak, pandangan gue banyak berubah. Gue mau mengajar anak-anak gue bahwa hidup itu ngga mudah. Bahwa benjol, memar, berdarah, kurang tidur, sakit, itu bagian dari hidup. Gue mau mereka jadi kuat untuk bertarung dan berjuang dalam hidup. Gue mau mereka belajar bahwa hidup itu ngga selamanya enak. I want them to learn that in this life, they have to fight to survive.

29 July 2013

Doaku Belakangan Ini

Doaku belakangan ini...
Semoga teman-teman, sahabat, saudara, kenalan yang masih berdoa dan berusaha punya anak segera dikabulkan Tuhan. Karena punya anak itu benar-benar anugerah. Ya memang mereka akan menyita waktumu, uangmu, tenagamu, pikiranmu, dan masih banyak lagi. Tapi apa yang mereka berikan jauh lebih berharga dari itu semua. Mereka memberikan warna baru dalam hidupmu, mereka memberikan sudut pandang yang baru atas jalanmu, mereka memberikan tujuan baru untuk arah hidupmu, dan mereka meluaskan tempat dihatimu untuk memberikan kasih yang berkembang setiap harinya. Tidak ada yang bisa berkata cukup mengenai anak. Mereka tidak akan cukup nakal atau cukup baik, tidak akan cukup pintar atau cukup bodoh, tidak akan cukup jauh atau cukup dekat, tidak akan cukup kecil atau cukup besar. Mereka adalah mereka, cukuplah untuk disayangi. Kita pun tidak akan pernah cukup untuk mereka. Tidak cukup baik atau cukup jahat, tidak cukup kaya atau cukup miskin, tidak cukup diam atau cukup bawel. Kita sendirilah cukup untuk mereka. Semoga teman-teman yang belum merasakannya suatu saat diberikan kesempatan untuk merasakan hidup memiliki harta yang yang ternilai ini, anak.

Doaku belakangan ini...
Semoga setiap keluarga menemukan jawaban untuk menambahkan kasih dalam kehidupan mereka. Terlalu banyak luka hati yang disebabkan oleh keluarga. Bukan saja atas apa yang mereka lakukan, tapi sering kali atas apa yang tidak mereka lakukan. Banyak lelaki yang menyakiti istri mereka dengan memukul, membentak, mencaci, tapi banyak yang menyakiti istrinya dengan melupakan hari jadi pernikahan, dengan tidak bertanya istrinya pergi kemana, dengan tidak peduli istrinya sudah makan atau belum, atau cukup dengan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal setiap berangkat kerja. Banyak anak yang menyakiti orang tuanya dengan nilai yang jelek, narkoba, atau berargumen keras tapi mereka tidak sadar kalau dengan tidak pernah menelepon, mengunjungi, atau sekedar menyempatkan waktu untuk duduk bersama dan mengabiskan waktu dengan  orang tua mereka saja sudah cukup menyakitkan. Semoga kita bisa memberikan lebih banyak diri kita bagi keluarga.

Inilah doaku belakangan ini...
Semoga Tuhan mengabulkannya...

17 May 2013

Hancur Hatiku

Hancur hancur hancur hatiku...
Mungkin itu yang paling pas ngegambarin apa yang ada dihati gue saat ini. Hancuuurrr cur cur... Rasanya kayak... Pernah ngga sih lo sayang sama sesuatu. Sayang banget sama sesuatu yang berharga gitu. Terus lepas dari tangan lo tanpa lo bisa berbuat apa-apa. Sekali waktu lo ketemu lagi sama sesuatu  itu dengan kondisinya yang mengenaskan. Mungkin menurut orang yang sekarang memilikinya, sesuatu itu tetap indah, bahkan mungkin lebih indah. Tapi buat lo sesuatu itu kehilangan makna sesungguhnya, jati dirinya, keindahan yang dulu lo pelihara, bahkan di mata lo nilainya udah hilang.
Itu yang gue rasain sekarang. Gue mungkin cuma bisa liat dari jauh, gue ga bisa sentuh lagi, ga bisa gue apa-apain lagi. Tapi jujur, dalam hati gue nangis... Sedih banget gue ngeliatnya. Dulunya gue jaga tetap murni. Gue rawat mati-matian supaya ngga cuma dimata gue indahnya, tapi juga dimata semua orang. Gue sayangin. Gue bawa dalam hati gue kemana-mana. Gue dengerin lagunya dimana-mana.
Ahhh... kenapa gue jadi curhat ya malem-malem gini? Toh sekarang udah bukan milik gue lagi, bukan sesuatu yang harus gue jaga atau rawat. Biarlah... Semoga sang sesuatu tidak benar-benar hancur, dan ini semua hanya kekhawatiran gue aja...
*close youtube*
*mendadak sebel sama "Where Have You Been"nya Rihanna*

21 November 2012

#PatsyLagiMikir

Berhubung ngga punya banyak waktu buat ngeblog lagi, akhirnya gue nulis di twitter aja deh. Kalo sempet baru dipindahin ke blog...
Ini kurang lebih sebulan yang lalu ya... Lama juga ya...

 @PatsyMow

Kadang2 gue merasa hubungan gue sama Tuhan itu kayak gue sama bayi gue... #patsylagimikir 

Sok tau, sok bisa, sok cuek, sok berani. Padahal gue ga tau bahayanya. Persis kyk bayi gue. Ga mau dipegangin. #patsylagimikir

Kadang2 gue cuekin juga bayi gue (sambil diawasin tentunya). Dia kejedot, pernah jg jatoh, trs nangis nyamperin gue. #patsylagimikir

Gue juga gitu. Kdg jatoh, kdg kesandung, trs kesel "kok Tuhan biarin gue". Pdhl Tuhan ga pernah ninggalin. Gue aja badung #patsylagimikir

Kalo udah susah, sakit, baru deh nangis. Minta tolong. Baby J jg gitu ke gue. Trs ngerayu, cium2, elus2.. Berharap dipeluk #patsylagimikir

Gue juga suka "ngerayu" Tuhan. Tiba2 rajin berdoa, ke gereja, pelayanan. Pdhl harusnya itu murni krn mengasihi Tuhan ya. #patsylagimikir

Pada akhirnya gue luluh dan kembali memeluk bayi gue. Dan ketika dia peluk gue lg, berasa bgt itu murni krn dia sayang gue. #patsylagimikir

Gue percaya Tuhan jg seneng sekali klo gue mau "manis" lagi dan ibadah gue murni krn gue mengasihi Tuhan, bukan "ada maunya" #patsylagimikir

22 May 2012

Let's Go to School!

As a mom, gue udah mulai cari-cari sekolah buat anak gue. Crazy huh? anak gue baru 6 bulan! Oh well, ngga mau aja kalo nanti udah waktunya gue baru ribet cari sekolah daaannnn baru tau berapa biayanya. Bisa-bisa pingsan sambil pose gue nanti.

Tapi sebagai mantan guru (atau setidaknya sedang cuti), gue sebenarnya berpikir soal hal-hal yang selama ini ada di kepala parents soal sekolah. Dan percayalah, daripada dari orangtua, informasi dari guru soal sekolah lebih akurat. Karena bukan orangtua yang ada sama anak selama jam sekolah, tapi guru. Yang tau bagusnya sekolah tersebut dan bobroknya sekolah tersebut, ya guru. Karena pernah jadi guru sekolah dan pernah jadi pengajar non-sekolah yang anak-anak didiknya sering curhat sekolah, inilah yang ada di otak gue soal cari sekolah buat anak.

1. Metode
Sekarang ini yang namanya sekolah banyak banget metodenya. Mau yang standar nasional (SNI kali), Montessori, Singaporean, dll. Nah menurut gue, ngga semua anak lho cocok dengan metode tertentu.
Misalnya sekarang lagi booming-boomingnya metode Montessori. Ngga semua anak juga cocok dengan metode Montessori. Bisa jadi anak lebih cocok dengan metode konvensional dimana satu guru di depan dan semua murid mendengarkan. Buat gue, ada baiknya orang tua cari tahu dulu metode yang digunakan di sekolah yang dituju lalu baru memilih sekolah yang metodenya cocok buat anaknya.

2. Miss or Bu Guru?
Banyak lho sekolah sekarang yang franchise atau yang punya banyak cabang. Kadang-kadang orang tua tergiur (saelaaah bahasanya "tergiur") dengan nama sekolah yang keren. Padahal sekolah yang keren itu pusatnya. Tempat gue ngajar dulu juga sekolah cabang. Tapiiiii... Kita punya evaluation training yang secara reguler diadakan untuk guru-gurunya. Dan setiap tahun ada guru-guru yang di rolling pindah cabang untuk menyamakan mutu.
Ngga berarti juga guru yang SPd, SPsi, Scampur, Scendol, Sdoger, itu 100% bagus atau yang masih kuliah 100% jelek. Karena jadi guru juga harus pakai hati untuk mengajar anak-anak didiknya. Gue sih maunya tanya-tanya dulu soal gurunya sebelum masukin anak ke sekolah tertentu. Bukan cuma kualitas pendidikan dan wawasannya, tapi juga mental dan hatinya.

3.  Speaking-speaking Bahasa
Sekarang ini banyak sekali yang namanya sekolah internasional atau nasional plus (asal jangan plus plus yeee). Nah rata-rata sekolah ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Ada juga yang bilingual, alias dua bahasa. Ada pula yang menambahkan bahasa asing selain Inggris, Mandarin misalnya.
Nah, jangan sampai cuma karena terobsesi pengen anaknya jago macem-macem bahasa malah bikin orang tua salah masukin anaknya ke sekolah. Ngga jarang tuh denger di mall ada anak yang ngobrol sama sesamanya,"Ah, your laptop ngga canggih ah. Masa nge-hang padahal I cuma mau download video doang." Wakwaaaaww... Mungkin si anak terbiasa dengan bahasa asing di sekolah tapi ngga dibiasakan di rumah, jadi campur aduklah bahasanya. Menurut gue, bila memang berkomitmen untuk memasukan anak ke sekolah yang berbahasa asing, orang tua juga membiasakan bahasa asing di rumah.

4. G-4-UL alias Gahul!
Nah, terutama bagi orangtua yang anaknya mau masuk SMP atau SMA, sebaiknya berpikirlah soal masalah pergaulan di sekolah. Karena banyak anak-anak yang salah gaul bukannya di dunia luar, tapi disekolah. Ini juga mulai dari kecil lho.
Sebagai mantan guru preschool, mantan guru kursus yg kepo, dan masih punya banyak saudara yang piyik-piyik, gue banyak melihat perbedaan anak yang bersekolah di sekolah nasional, nasional plus, dan sekolah internasional. Bisa saja bahasanya kurang-lebih sama. Atau kemampuannya juga ngga jauh berbeda, tapi cara berpikir, sosialisasi, sampai cara mereka berinteraksi dengan orang tua cuma berdasarkan sekolahnya. Karena beda pergaulannya tentunya. Hati-hati ah, ngga mau anak gue jadi norak karena sekolahnya tapi juga ngga mau anak gue jadi sombong karena sekolahnya.

5. Tujuan
Adalah sayang menurut gue kalau anak sudah sekolah internasional dari kecil, tiba-tiba masuk SMA Negeri bergengsi. Bukannya SMA Negeri itu jelek, tapi SMA Negeri apalagi yang bergengsi itu pelajarannya susah lho. Makanya banyak anak Indonesia yang juara di Olimpiade Sains Internasional. Bisa-bisa anak gue kena culture shock. Sebaiknya kalau anak mau masuk SMA Negeri lalu ke Universitas Negeri juga, persiapkan dari kecil. Demikian juga kalau anak tujuannya mau kuliah keluar negeri, buat apa masuk SMA Negeri bergengsi? Udah capek-capek cari nilai UAN tinggi, di luar negeri standar penilaiannnya beda lagi.
Belum lagi masalah kerja. Anak mau jadi atlet/musisi dimasukin ke sekolah yang pelajarannya berat, ya maboklah itu anak. Tentu kita juga harus pertimbangakn kemampuannya. Ngga bisa semuanya obsesi orang tua bukan?

6. It's all about the MONEY
Hohoho... Setelah melakukan banyak pemikiran soal sekolah, semuanya balik lagi ke kemampuan orang tua. Mau sekolah bagus dan cocok ama anak, kalo duitnya ngga ada, piye? Nah, mencari sekolah mengakomodir SEGALA kebutuhan anak, juga gue sebagai orang tua, artinya mencari sekolah yang juga pas di kantong kita. Jangan sampe ngutang gara-gara mau masukin anak ke sekolah bergengsi. Banyak juga kok orang-orang hebat bukan dari sekolah yang keren. Demikian juga anak-anak dari sekolah bagus kalau ngga di ajari bener sama orang tua nya juga banyak yang ngga jadi apa-apa.

Yaa ini sih sekedar penilaian gue aja mempersiapkan anak gue (yang baru 6 bulan itu) masuk sekolah. Karena sama anak ngga ada yang namanya trial and error. Emangnya bikin kue? Kalo anak, error dari awal ya cuma bisa usaha sekuat tenaga untuk mengoreksi dan tentunya ngga bisa 100%.
Gue bukan psikolog apalagi pendidik kelas kakap (cuma kelas cumi), cuma sharing aja apa yang ada di otak gue soal sekolah. Masih mau nulis CMIIW, Correct Me If I'm Wrong. Karena ini yang gue alami sebagai pendidik. (Guru bisa "mantan", tapi sebagai orang tua sampe kapanpun gue adalah pendidik.)

Hoy! Kamu yang dibelakang sana jangan tidur!!! *lempar kapur*

14 May 2012

Lupa! Lupa Lupa Lupa...

"Aduh lupa!", "Ngga tau deh, lupa.", "Lupa aku."... Kata-kata sakti inilah yang paling sering gue omongin ke orang-orang terdekat gue. Berhubung memang dari kecil kebiasaan gue adalah itu: lupa. Kadang-kadang kalo gue malas berpikir juga gue bilang lupa. Tapi biasanya kalau gue bilang lupa ya artinya lupa.


Kebiasaan lupa ini bermula dari kecil. Karena gue punya mommy yang sangat sayang sama anak-anaknya, jadi beliau sibuk menyiapkan semuanya buat gue dan ade gue. Karena biasa disiapkan segala sesuatunya, jadi kami kurang bertanggung jawab akan barang-barang kami sendiri. Bukan cuma barang, jadwal, tempat, bahkan janji juga. Dan terbawalah si kebiasaan ini sampai besar.


Saat sudah waktunya tidak tergantung mommy, gue harus mencari cara untuk menghilangkan si lupa. Pertama: Catat, gue biasa mencatat apa saja supaya gue tidak lupa. Di catatan kecil, buku tulis, agenda, dan macam-macam tempat lain. Kedua: Alarm, memasang alarm minimal setengah jam dari waktu seharusnya gue bangun. Gunanya adalah membiarkan otak gue berpikir sejenak tentang apa yang harus gue lakukan hari itu. Ketiga: Pengaturan, (kayak bahasa di ponsel atau di internet ya?) supaya gue terbiasa menaruh barang ditempatnya. Pengaturan gue agak unik karena gue orang yang berantakan sekali, jadi gue bukan mengaturr barang-barang gue supaya rapih tapi benar-benar gue atur supaya barang-barang gue ada di tempat biasanya. Contoh: kalau gue biasa taruh bedak di lantai, ya gue taruh di lantai. Hehehe...


Dan setelah itu kebiasaan lupa gue pun hilang. Hahaha... Ngarep! Sayangnya itu tidak terjadi. Kebiasaan gue tetap ada, dan gue pun tetap lupa. Yah, mau bagaimana lagi, namanya juga kebiasaan dari kecil, sudah pasti sulit dihilangkan. Tapi setidaknya gue berusaha untuk bisa menghilangkan kebiasaan yang membuat gue sering berantem sama pacar gue itu. Karena bagaimanapun juga, lama-lama kalau lupa terus-menerus gue bisa lupa hidung gue ada dimana.


Eh, hp gue mana ya?

Kam_________t

"Kam*reeeeeeeeeet!"
Sering banget deh denger itu sekarang. Banyak banget yang ngucapin kata itu. Heran deh. Perasaan itu kata makian yang udah old school ya, tapi sekarang ngetop lagi. Macem fashion aja, comes and goes... Haha...

Dulu anak dance gue hobi banget bilang "Sh*t!". Keren ya, bahasa Inggris? Ada lagi temen yang hobinya bilang "F*ck!". Kesannya kayak itu lifestyle dan keren aja kalo ada hal yang ngga enakin terus ngucapin kata-kata itu. Padahal gimana juga itu kan kata makian. Walaupun bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Jepang, bahasa planet, bahasa apapun, kata makian tetep berpotensi menyakiti hati dan menyakiti kuping yang dengar.

Gue pun kadang kelepasan. Tapi gue tetep aja gerah denger kata makian. Mau maki-maki orang atau maki diri sendiri atau maki keadaan, tetep aja ngga enak dengernya. Apalagi kalo itu keluar dari mulut perempuan, yang seharusnya bertutur kata-kata bijaksana dan mendidik bagi anak-anaknya kelak. Maki-maki orang, sama aja melabeli mereka dengan negativitas, maki-maki diri sendiri sama aja mencela ciptaan Tuhan, maki-maki keadaan berarti ngga puas dengan situasi.

Maki-maki juga kadang ngga harus karena marah, tapi banyak juga yang bercanda ngucapin makian. Misalnya mengata-ngatai teman, atau juga cerita soal orang lain. Biasanya diselingin dengan ketawa ngakak, bisa juga sambil cipika-cipiki, atau juga sambil melakukan gerakan aneh.

Emang susah dimasa sekarang kalau jadi anak gaul dan ngga sama sekali maki-maki. Gue biasanya kalau sama kedua saudara perbabian gue (Ms O & Mrs D) ngga enak kalo ngga ngobrol pake kata-kata makian. Tapi sekarang mulai ditahan karena dua dari kita udah punya anak. Bisa dibayangkan anak-anak kalau denger orang tuanya ngucapin kata-kata makian, nanti pasti akan menurun juga ke mereka.

Nah sekarang, coba pikir sekian kali dulu sebelum bicara kata-kata makian ya Preeeeet.... (lhaaa ini kok...)

13 March 2012

Hilang... dan muncul kembali

Hilang... Setahun terakhir saya hilang dari peredaran blog. Huhuhu... Kemana? Ok... Coba di runut yaaa...
Gue menikah. Yup, menikah! With my longtime boyfriend. Setelah dipaksa sana-sini buat berani maju ke jenjang yang lebih tinggi, akhirnya nikah juga yaa... 6 tahun cuy pacarannya. Hohoho...
Gue hamil. Aseeeekk. Something that I've been wanting to experience. Menjalani 9 bulan dengan berbagai rasa yang ngga bisa diungkapkan dengan kata. Mood yang naik-turun. Bahagia, stres, laper, mual, seneng, marah, semua jadi satu. Tapi semua ngga kerasa banget begitu masa-masa itu selesai.
Gue jadi ibu! Hahaha... Banyak yang ketawa ngebayangin gue jadi ibu. Badan kecil, anaknya besar. Hoooo anak gue besar beneran. Bahkan susternya aja bingung sama pertumbuhannya. He's such a little happy boy. Jarang nangis, ceria, penuh sukacita, bikin gemes, daaaannn bulet! Hehehe... Tembem maksudnya. Ngga ada orang yang liat dia tanpa pengen cubit pipinya. Awas aja, mommynya melotot.
Well, berhubung udah jadi mommy, gue ngga bisa banyak-banyak luangin waktu buat nulis blog lagi. Semoga aja gue ngga males lagi meng-update blog ini... Hehe... Yang jelas saya pernah hilang, tapi saya akan sealu muncul kembali.

04 February 2011

Bosan

Hmm... Bosan, bete, suntuk, garing, mati gaya... Kok kesannya kata-kata itu sinonim ya? Padahal sama sekali berbeda. Banyak orang yang bilang "bosan". Alasannya macam-macam. Ada yang bosan karena rutinitas, ada yang bosan karena tidak ada perkembangan, ada yang bosan karena tidak pernah ada yang berbeda. Banyak sekali alasannya. Bosan dengan hidup gue, bosan dengan pekerjaan gue, bosan dengan teman-teman gue, bosan dengan pacar gue, bosan dengan situasi gue, atau bosan dengan pasangan hidup gue (ups, kalo yang ini bisa jadi bibit-bibit perselingkuhan nih). Kalau gue sih bukan orang yang mau susah. Kalo bosan sama pekerjaan ya resign, bosan dengan pacar ya putus, bosan dengan teman-teman ya jangan main lagi, bosan dengan situasi ya usaha ganti situasi, bosan dengan pasangan hidup ya ngga bisa diapa-apain, bosan dengan hidup ya (kasarnya) mati aja loe! Apa sih yang bikin orang bosan. Paling cuma satu yang paling jelas: tidak puas. Sudah kodratnya manusia itu makhluk yang tidak pernah puas. Sulit untuk membuat manusia puas sama hidupnya. Masalahnya, dewasa ini, kita memang diajarkan untuk tidak pernah puas. Kalau sudah SMA ya jangan puas, harus kuliah; kalau punya uang 100ribu jangan puas, harus punya sejuta; kalau punya pekerjaan jangan puas; harus bisa berkarya; kalau punya suami jangan puas, harus punya 2, eh salah, harus punya anak maksudnya. Ya sebenarnya memang manusia serba salah sih. Susah ya jadi manusia. Mau puas dibilang tidak punya kemauan untuk berkembang, tidak puas dibilang ambisius. Kalau gue sejak kecil diajarkan, jangan puas tapi harus bersyukur. Hmm... Boleh juga nih ajarannya enyak ame babe. Bersyukur adalah kata kuncinya. Gue juga orang yang mudah bosan dengan hidup gue. Tapi gue mensiasatinya dengan mengucap syukur. Segala situasi yang gue hadapi ada jalan untuk menjadi lebih baik, lebih berwarna, dan tidak membosankan. Lagipula gue punya untuk menghadapi kebosanan gue: nari, nyanyi, daaaaaaannn tidur!