10 January 2016

Si "Book"

Hepi nu yiaa eperibodeehhh...
This year is about being a new me. I'm recently on a new stage of my life. Yah yah yah... baru-baru ini kepala saya jadi tiga. Begitulah. The kepo-moody-temperamental-childish-tomboy mom was having a moment of reflection.
Banyak ketemu orang, banyak ngobrol selama liburan, berarti banyak masukan, cerita, dan refleksi diri. Seberapa sering sih kita catat apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan ke dalam buku? Apalagi sekarang udah ada smartphone, tablet, dan berbagai gadget. Makin jarang aja ketemu kertas.
Padahal saya sendiri merasa beda lho nulis di buku dan nulis digital. Yang di buku bisa diurek-urek, kalau bete kertasnya bisa dilecekin, kalau nangis tulisannya luntur (bisa dihindari kalau pakai Pilot atau Standart, you know what I mean...), kalau senang bisa digambar-gambar (dengan skill seadanya), kalau penuh cinta bisa pakai cap bibir, so many emotions yang bisa dituangkan ke dalam selembar kertas atau sebuah buku...
I miss having one book. A notebook. My own notebook. One that drives me crazy when someone randomly read it and makes me go crazy if someone write in it. Especially when it is someone in particular. Not just someone, but "someone" someone. That special someone.
I used to have a notebook that holds everything i that i have in mind. One book that represents me. When people see that book, they see me. A book that I pour my heart and soul into. A book that is a place where I write about my thoughts, my feelings, my worries, my everything.
That kind of book is what I need right now. I used to write everything and anything in my life randomly. Everytime i finished my writings, it feels like i'm released from a great burden. Nowadays, with being mom of two and everyday life, I rarely have a chance to write. When I'm not with them, chores are waiting to be done. Lately I realize I become easily irritated and missunderstood. Mungkin seiring berjalannya usia, saya harus kembali ke toko buku, mencari dan kembali mencari teman kertas buat saya...

07 November 2015

This Village for My Children

Dulu waktu gue baru punya anak rasanya sombong banget. Cari-cari ilmu di buku, di internet, belajar apa kata para ahli dan para pakar, pokoknya cari ilmu sebanyak-banyaknya dari luar. Salah? Ngga juga sih. Tapi, ya gitu, gue jadi sombong. Ga mau dengar pendapat orang deket, ga mau anak gue dipegang orang lain, apa lagi kalo orang itu udah punya anak terus karakter anaknya ngga sesuai yang gue mau. Hih, jauh-jauh deh. *buang napas dari idung* *upilnya mental*
Sekarang anak gue dua. Gue baru sadar ternyata pepatah Afrika yang bilang "It takes a village to raise a child" itu bener. Karena gue juga manusia, bisa capek, bisa emosi, bisa khilaf, kadang-kadang juga bisa gila. Dan saat itu siapa yang "raise" anak-anak gue? My "village", of course. Keluarga, tetangga, teman, dan orang-orang di sekitar kami.
Waktu gue sadar akan hal itu, rasanya kayak ditabok (pake sendal jepit sama Agung Hercules). Baru sadar gue ga bisa menciptakan dunia ideal buat anak-anak gue. Mereka akan tumbuh sesuai dengan situasi yang ada.
Yaaaahhh batal dong gue membentuk mereka sesuai yang gue mau? Ngga juga sih. Tetap aja sebagai orang tua gue harus jadi pagar dan filter terdepan buat mereka. I'm sending them to the right village. Gue ga bisa melarang mereka informasi masuk ke mereka, tapi gue bisa mengarahkan mereka untuk mencari sumber informasi yang valid. Gue ga bisa melarang mereka main, tapi gue bisa mencari permainan yang baik buat mereka. Yang jelas gue berusaha memastikan bahwa dasar yang mereka bangun itu kuat. Lalu biarkan mereka membangun diri mereka sendiri, mungkin jadi rumah, rumah panggung, gedung pertunjukkan, gelanggang olahraga, condotel, apa pun itu. Saatnya nanti, mereka akan jadi "village" untuk anak-anak lainnya.

10 July 2015

Balada Undang Mengundang

Belakangan ini lagi musim kawin. Bukan, bukan kucing depan rumah. Tapi banyak yang menikah dan akan segera menikah di sekitar gue. Tetangga, teman sekolah, kerabat, temen fesbuk... hehehe...
Beberapa kali, di kolom komentar foto resepsi pernikahan di sosial media, gue menemukan kalimat "kok gue ngga diundang?". Begitu juga terdapat beberapa di foto resepsi pernikahan gue. Sebagai orang Indonesia yang menganggap resepsi pernikahan adalah "pengumuman" bahwa kita sudah menikah, tentu inginnya semua orang tahu dan ikut berbahagia. Akhirnya gue berusaha mengingat lagi, kenapa ya ngga gue undang semua yang gue kenal ke resepsi pernikahan gue. Gue menemukan beberapa jawaban.

1. Pentingnya orang tersebut.
Pernikahan itu sesuatu yang penting, diharapkan terjadi sekali seumur hidup, sebuah langkah besar dalam hidup. Tentu gue ingin berbagi dengan orang-orang yang penting buat gue dan pasangan. Orang-orang yang membentuk kita akhirnya menjadi kita yang saling menemukan dan mengiring kita sampai ke pernikahan. Kalau sekedar kenal doang, ya udahlah ya, mungkin ga perlulah diundang.

2. Budget.
Namanya kita mau berbagi kebahagiaan, pasti ada dana yang harus dikeluarkan. Tentunya ngga semua orang bisa kita kasih makan. Kalau kita habiskan semua buat kasih orang makan, besoknya kita mau makan apa? Toh resepsi hanya satu hari (atau seminggu, untuk yang ada dananya), tapi hidup harus terus berlanjut dan itu butuh dana juga. Jadi ngga perlu kan semua orang diundang ke resepsi.

3. Suasana.
Beberapa waktu yang lalu beredar video seseorang yang menangis di resepsi pernikahan mantan kekasihnya. Duh, karena satu orang, suasana bahagia berubah jadi air mata. Atau ada beberapa orang gue kenal ternyata bermusuhan dengan kenalan gue yang lain. Padahal tujuan kita mengadakan resepsi tentunya untuk berbagi kebahagiaan. Dengan beberapa alasan ini juga waktu itu gue memutuskan untuk tidak mengundang beberapa orang.

Pada akhirnya keputusan untuk mengundang para kerabat (atau tidak) kembali kepada pasangan yang akan menikah. Dan kalau tidak diundang sebaiknya tidak membebani mereka dengan perasaan bersalah karena tidak mengundang kita. Doakan saja supaya pernikahannya selalu bahagia. Bukan begitu?

18 November 2014

Ke depan... gih, sana!

People change. They do. Pernah ngga sih lo berpikir bahwa "Aku masih seperti yang dulu" tuh ngga masuk akal? Ngga ada ceritanya bahwa kita adalah orang yang sama selalu. Kita berubah. Setiap saat kita berubah. Bertambah tua, setidaknya.
Dulu saudara gue punya sahabat. Lengket banget. Udah kayak merpati giring, kemana-mana berdua. Kegiatan apapun selalu sama-sama. Sampai akhirnya sesuatu terjadi dan mereka pun bercerai. "Abis dia berubah sih. Ngga kayak dulu", katanya.
Setiap orang pada suatu titik dalam hidupnya harus menyadari bahwa dia bukan orang yang sama lagi. Mungkin bisa saat terjadi suatu peristiwa atau saat dia lagi dalam suasana sehari-hari yang menjenuhkan.
Gue, misalnya, sedang melihat anak-anak gue saat gue sadar bahwa realita gue udah berubah. Gue bukan lagi "kak Patsy", sekarang kemana-mana gue pasti dipanggil "Bu" atau kalo sama SPG sok kenal dipanggilnya "Bunda" (sebenernya gue ngga suka banget dipanggil Bunda, tapi ini bahan cerita di hari lain). Gue ngga mengajar anak-anak remaja dengan berbagai persoalan dan latar belakang lagi, tapi mengajar 2 bocah kecil yang sama setiap harinya. Gue berubah dari tante single yang baik hati, favorit semua anak, jadi "mommynya J&R yang galak". Memang. Jadi galak. Kemudian gue sadar kalo gue bukanlah orang yang sama lagi.
Makanya gue jadi sebel kalo ada yang becandaan pake " Dulunya...". Karena gue percaya hidup itu selalu memandang ke depan. Ya, memang ada kalanya kita sesekali menengok ke belakang. Untuk belajar dari kesalahan, untuk bersyukur atas situasi yang membentuk kita, untuk mencari pijakan saat kita hendak melangkah ke atas lagi. Tapi ngga berarti kita terkungkung dengan kejayaan masa lalu, bahkan terpenjara karena muramnya hal-hal yang telah terjadi dulu.
Gue belajar bahwa masa lalu itu cukup dilirik, sesekali ditengok. Tapi tidak dihampiri. Hanya sebagai referensi untuk terus maju ke depan. Karenanya gue mau terus maju dan melangkah. Gue mau jadi "orang yang lebih baik lagi" seperti kalimat favorit orang-orang. Gue harus lebih dari sekarang. Karena anak-anak membutuhkan gue yang sekarang, bukan gue yang dulu.
I wanna keep moving forward.