05 August 2014

Dua bunda

Ibu.
Begitulah pekerjaan mereka. Mengasuh, mendidik, mengajar, memeluk, mencium, memberi semangat, mengkritisi, membenarkan, mengoreksi, hanya sebagian kecil dari pekerjaan mereka.

Dua.
Lahir di tanggal yang sama. Tepat setahun bedanya.
Sama kerasnya, beda dunianya.
Sama perhatiannya, beda targetnya.
Sama kerja kerasnya, beda kegemarannya.
Sama keras musiknya, beda alirannya.
Sama hati memberinya, beda pemberiannya.
Sama keras hidupnya, beda prioritasnya.
Sama penuh cintanya, beda panggilannya.

Mommy. Mama.
Keduanya Bunda ku.

30 June 2014

Together Forever

"... setia mendampingi dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin maupun kaya, duka maupun suka, sampai maut memisahkan..."

Awwww... Bersama selamanya... Indah ya? Setelah pacaran lama, lalu menikah, lalu bersama selamanya. Seperti cerita dalam film-film itu lho... Sayangnya kenyataan tidak berkata demikian. Gue pacaran 6 tahun lebih, lalu menikah sudah 3 tahun. "Bersama selamanya" adalah salah satu yang gue harapkan setelah (akhirnya) gue menikah setelah bosen ditanyain melulu sama orang-orang. Setelah menikah gue berharap makin mesra, makin kasmaran, makin lengket sama suami.
Ternyata ngga lho. Setelah menikah, lalu langsung hamil, lanjut punya anak, lalu anak kedua, seakan-akan waktu ngga memberi celah buat kami mesra-mesraan. Suami kerja makin giat karena makin banyak mulut yang harus dikasih makan. Gue, yang sedari awal ngotot mau nyusuin sampe dua tahun dan ngga mau punya babysitter, sibuk sama anak-anak. Dari bangun, nyusuin, suapin, mandiin, cebokin, semuanya gue yang urus. Mungkin hampir setiap jengkal badan anak gue, gue kenal. Tapi suami? Hmmm....
Dulu, jaman pacaran, setiap hari gue sama suami smsan (belum punya hp canggih yang bisa BBM, Line, Whats App, dll). Kalo bisa tiap jam gue sms, gue smsin deh. Sekarang, mana sempat? Baru si kecil selesai nyusu, bungnya numpahin air, bungnya selesai makan, yang kecil minta digendong. Hectic. Dulu kalo punya kesempatan pasti gue sempetin ketemu laki gue buat mesra-mesraan, semua waktu gue buat dia. Sekarang mana bisa? Setiap ada waktu kosong bawaannya kalo ngga mau mandi, mau istirahat, mau pegang hp, mau tidur.
Setelah semuanya ini baru gue tau, kenapa banyak orang yang cerai. Banyak yang bilang "tidak ada kecocokan lagi'. Karena setelah sibuk sendiri, memang seakan-akan kita ngga kenal pasangan lagi. Gue ngga tau dia ngajar apa aja hari ini, dia ngga tau bung J - baby R ngapain aja hari ini. Gue ngga tau dia sama temen-temennya ngomongin capres atau piala dunia atau siapa yang mereka dukung, dia ngga tau gue berapa kali jerit sama bung J supaya ngga gangguin baby R pas lagi tidur. Belum lagi ngga tau kalo masing-masing pergi, di jalan ada apa. Bisa sih cerita, tapi seberapa lengkap cerita kita? Bisa ngga ngisi cerita kita sampai ke apa yang kita rasain?
Lalu bagaimana? Ya begitu deh... Ya tentu disinilah yang namanya usaha. Ternyata usaha ngga hanya waktu lo berusaha deketin dia di kampus, atau usaha supaya dia cepet nembak, usaha biar ngga putus, usaha biar dia cepet ngelamar (hahaha... sounds ngenes?), tapi juga usaha mempertahankan cinta yang udah ada. Mempertahankan kasih yang kita kumandangkan sejak jaman pedekate.
Kadang kita bisa usaha sendiri, kadang kita butuh bantuan. Bantuan gue bernama "grand-grandnya bungJ-babyR" Hehehe... Grandpa, Granny, dan Granddad, yang setia nemenin atau gendong bungJ-babyR sementara mommy-daddynya sekedar pegangan tangan atau makan bareng. We never had (or desperately need) fancy dinner or a night out (yet?). Sekedar pengorbanan kecil-kecil setiap hari ada aja artinya. Mungkin bikinin mi goreng buat suami walau badan rentek abis nyusuin, atau pijitin pinggang gue yang mau rontok walau dia baru aja selesai ngelatih basket dengan materi passing-shooting.
It takes two to fall in love. Perjalanan masih panjang. Selama kita masih sama-sama berusaha untuk tetap saling mencintai, "sampai maut memisahkan" bukan tantangan besar...
Happy 3rd anniversary dear...

15 May 2014

Fight to Survive

I always consider myself a late bloomer. Gue dewasa sangat terlambat, menurut gue. Walaupun gue udah jalan kemana-mana, gue baru merasa menemukan diri gue setelah menikah, punya anak. Banyak hal yang gue rasa gue lewatkan dan terlanjur ngga bisa kembali.
Setelah menikah gue melihat kembali kehidupan gue, dan gue menyadari banyak hal yang gue pikir udah gue jalani maksimal ternyata belum. Hal-hal yang gue pikir sudah keterlaluan, ternyata bahkan belum lewat batas. Dan yang lebih bikin gue merenung, ada hal-hal yang gue pikir udah gue selesaikan ternyata belum selesai.
Gue terlalu mudah percaya sama orang. Dan kalau gue udah percaya sama orang, gue akan mengabaikan orang lain. Orang pertama yang gue anggap benar akan jadi pegangan gue dan orang lain akan selalu salah dimata gue. Untuk itu, ada harga yang harus gue bayar. Gue kehilangan banyak kesempatan. Gue kehilangan banyak peluang. Hanya karena pendapat orang tertentu. Yang seharusnya gue bisa melebarkan sayap, pandangan gue jadi sempit. Gue ngga mau itu terjadi sama orang-orang muda yang gue sayangi. Gue berharap ngga akan jadi halangan buat mereka maju, gue mau jadi batu loncatan mereka. Supaya mereka ngga jadi seperti gue yang kehilangan peluang-peluang yang bisa merubah hidup mereka.
Lagipula gue juga terlalu malas. Gue terbiasa untuk ngga menghargai perubahan. Gue orang yang memegangn teguh sebuah tradisi. Bukannya itu hal yang jelek, tapi itu mengekang gue untuk berinovasi. GUe terlalu terpaku sama masa lalu dan sulit sekali menatap ke depan. Kejayaan masa lalu adalah masa lalu, harusnya gue menatap ke depan. Akhirnya gue terpenjara di masa lalu. Dan seperti batu ditengah-tengah sungai, gue ngga kemana-mana. Disitu aja. Terlalu sering gue bilang "Dulunya ..." dan itu terlalu banyak menghambat gue. Gue ngga ngga mau orang-orang muda yang gue sayangi terpaku sama masa lalu. Mereka harus menatap ke depan dan melangkah.
Dan yang terakhir, gue terlalu manja. Gue terbiasa mau enaknya dan sulit bertarung. Hidup gue bisa dibilang mudah. Dan kalau ngga dibilang mudah, maka gue akan memudahkannya untuk diri gue sendiri, gue lari dari masalah. Hal-hal yang harusnya gue selesaikan, gue tinggalkan. Hal-hal yang seharusnya gue perjuangkan, gue abaikan. Akhirnya gue ngga jadi apa-apa. Gue terlalu lemah untuk bertarung untuk masa depan gue, dan memilih menyerahkannya pada keadaan.
Setelah punya anak, pandangan gue banyak berubah. Gue mau mengajar anak-anak gue bahwa hidup itu ngga mudah. Bahwa benjol, memar, berdarah, kurang tidur, sakit, itu bagian dari hidup. Gue mau mereka jadi kuat untuk bertarung dan berjuang dalam hidup. Gue mau mereka belajar bahwa hidup itu ngga selamanya enak. I want them to learn that in this life, they have to fight to survive.

29 July 2013

Doaku Belakangan Ini

Doaku belakangan ini...
Semoga teman-teman, sahabat, saudara, kenalan yang masih berdoa dan berusaha punya anak segera dikabulkan Tuhan. Karena punya anak itu benar-benar anugerah. Ya memang mereka akan menyita waktumu, uangmu, tenagamu, pikiranmu, dan masih banyak lagi. Tapi apa yang mereka berikan jauh lebih berharga dari itu semua. Mereka memberikan warna baru dalam hidupmu, mereka memberikan sudut pandang yang baru atas jalanmu, mereka memberikan tujuan baru untuk arah hidupmu, dan mereka meluaskan tempat dihatimu untuk memberikan kasih yang berkembang setiap harinya. Tidak ada yang bisa berkata cukup mengenai anak. Mereka tidak akan cukup nakal atau cukup baik, tidak akan cukup pintar atau cukup bodoh, tidak akan cukup jauh atau cukup dekat, tidak akan cukup kecil atau cukup besar. Mereka adalah mereka, cukuplah untuk disayangi. Kita pun tidak akan pernah cukup untuk mereka. Tidak cukup baik atau cukup jahat, tidak cukup kaya atau cukup miskin, tidak cukup diam atau cukup bawel. Kita sendirilah cukup untuk mereka. Semoga teman-teman yang belum merasakannya suatu saat diberikan kesempatan untuk merasakan hidup memiliki harta yang yang ternilai ini, anak.

Doaku belakangan ini...
Semoga setiap keluarga menemukan jawaban untuk menambahkan kasih dalam kehidupan mereka. Terlalu banyak luka hati yang disebabkan oleh keluarga. Bukan saja atas apa yang mereka lakukan, tapi sering kali atas apa yang tidak mereka lakukan. Banyak lelaki yang menyakiti istri mereka dengan memukul, membentak, mencaci, tapi banyak yang menyakiti istrinya dengan melupakan hari jadi pernikahan, dengan tidak bertanya istrinya pergi kemana, dengan tidak peduli istrinya sudah makan atau belum, atau cukup dengan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal setiap berangkat kerja. Banyak anak yang menyakiti orang tuanya dengan nilai yang jelek, narkoba, atau berargumen keras tapi mereka tidak sadar kalau dengan tidak pernah menelepon, mengunjungi, atau sekedar menyempatkan waktu untuk duduk bersama dan mengabiskan waktu dengan  orang tua mereka saja sudah cukup menyakitkan. Semoga kita bisa memberikan lebih banyak diri kita bagi keluarga.

Inilah doaku belakangan ini...
Semoga Tuhan mengabulkannya...